Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan, Rifan Ardianto, membuka Pelatihan Desa BISA Ekspor di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (4 November). Pelatihan hasil kerja sama dengan Local Champion Indonesia ini difokuskan pada sektor pertanian. Materinya meliputi penanganan pascapanen, prosedur ekspor, dan kesiapan ekspor (export readiness). Desa BISA Ekspor merupakan salah satu klaster program prioritas Kemendag "Dari Lokal untuk Global", bersama UMKM BISA Ekspor, Kemitraan UMKM, dan Campuspreneur. Program ini mendorong desa menjadi motor penggerak ekspor, bukan sekadar penyangga produksi. Hingga kini, Kemendag telah memetakan 2.616 desa. Jumlah itu terdiri atas 787 desa siap ekspor (Klaster 1), 1.708 desa belum siap ekspor (Klaster 2), dan 121 sentra IKM. Di Jawa Barat sendiri, terdapat 151 desa binaan dengan produk yang mayoritas berasal dari sektor pertanian. Direktur Rifan menyampaikan tantangan terbesar bukanlah kurangnya potensi, tetapi bagaimana memastikan kualitas produk, standardisasi, desain kemasan, konsistensi suplai, dan keterhubungan dengan pasar. Sepanjang 2026, off-taker Desa BISA Ekspor telah menandatangani MoU senilai USD 1,73 juta dengan buyer RRT dalam Misi Dagang Shanghai. Selain itu, Paviliun Desa BISA Ekspor pada Trade Expo Indonesia 2026 mencatat potensi transaksi USD 6,98 juta. Turut hadir Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bandung Barat [nama], Founder Local Champion Indonesia Dhika Yudhistira, dan Kepala Desa Cibodas Didin Sukaya. Hadir pula para kepala desa serta kelompok tani se-Kecamatan Lembang.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan, Rifan Ardianto, membuka Pelatihan Desa BISA Ekspor di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (4 November). Pelatihan hasil kerja sama dengan Local Champion Indonesia ini difokuskan pada sektor pertanian. Materinya meliputi penanganan pascapanen, prosedur ekspor, dan kesiapan ekspor (export readiness).
Desa BISA Ekspor merupakan salah satu klaster program prioritas Kemendag "Dari Lokal untuk Global", bersama UMKM BISA Ekspor, Kemitraan UMKM, dan Campuspreneur. Program ini mendorong desa menjadi motor penggerak ekspor, bukan sekadar penyangga produksi. Hingga kini, Kemendag telah memetakan 2.616 desa. Jumlah itu terdiri atas 787 desa siap ekspor (Klaster 1), 1.708 desa belum siap ekspor (Klaster 2), dan 121 sentra IKM. Di Jawa Barat sendiri, terdapat 151 desa binaan dengan produk yang mayoritas berasal dari sektor pertanian.
Direktur Rifan menyampaikan tantangan terbesar bukanlah kurangnya potensi, tetapi bagaimana memastikan kualitas produk, standardisasi, desain kemasan, konsistensi suplai, dan keterhubungan dengan pasar.
Sepanjang 2026, off-taker Desa BISA Ekspor telah menandatangani MoU senilai USD 1,73 juta dengan buyer RRT dalam Misi Dagang Shanghai. Selain itu, Paviliun Desa BISA Ekspor pada Trade Expo Indonesia 2026 mencatat potensi transaksi USD 6,98 juta.
Turut hadir Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat Nining Yuliastiani, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bandung Barat [nama], Founder Local Champion Indonesia Dhika Yudhistira, dan Kepala Desa Cibodas Didin Sukaya. Hadir pula para kepala desa serta kelompok tani se-Kecamatan Lembang.

