Memasuki hari kedua pelaksanaan Seafood Expo North America (SENA) 2026 di Boston AS, interaksi bisnis antara peserta Paviliun Indonesia dengan mitra dagang berlangsung semakin intensif, Senin (15 Maret). Peserta pameran Paviliun Indonesia terus mencatat potensi transaksi serta penjajakan kerja sama lanjutan, mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kualitas, keberlanjutan, dan daya saing seafood Indonesia. Di sela kegiatan pameran, Atase Perdagangan di Washington DC bekerja sama dengan Global Dialogue on Sustainable Traceability dan Tuna Consortium juga menyelenggarakan seminar bertajuk “Indonesia in Dialogue: A Tuna Case Study Toward Sustainable and Traceable Seafood” sebagai ruang dialog strategis antara pemerintah, industri, dan mitra internasional. Seminar ini dapat menjadi platform strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen tuna yang berkelanjutan, transparan, dan kompetitif di pasar dunia. Seminar dimoderatori oleh Atase Perdagangan RI Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, serta menghadirkan panelis dari pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi internasional, antara lain: Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Koordinator Bidang Pangan Bara Hasibuan; perwakilan industri perikanan, Andajani dari PT Primo Indo Ikan; perwakilan International Pole & Line Foundation, Craig Turley; serta Michael McNicholas, pendiri perusahaan seafood super frozen Oddisea Superfrozen dan Chairman Board dari Global Dialogue on Seafood Traceability (GDST).

