Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan, Miftah Farid, membuka secara resmi International Flower Business Forum sebagai rangkaian Jakarta International Flower Festival pada Senin (15Juni). Dalam sambutannya, Direktur Miftah menyampaikan forum ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat daya saing dan memperluas penetrasi ekspor florikultura Indonesia ke pasar global, di tengah proyeksi nilai pasar florikultura dunia yang diperkirakan mencapai USD 114,44 miliar pada tahun 2030. Indonesia memiliki keunggulan sebagai negara tropis dengan kekayaan biodiversitas tinggi, namun ekspor florikultura nasional masih menghadapi tantangan dengan pangsa pasar global yang baru mencapai 0,08 persen atau berada di peringkat ke-45 dunia. Miftah menekankan pentingnya dua hal yang perlu segera dibenahi, yakni adopsi standar mutu internasional seperti sertifikasi Good Agricultural Practices (GAP) serta penguatan sistem logistik berpendingin untuk menjaga kualitas produk yang bersifat mudah rusak selama proses pengiriman ke negara tujuan ekspor. Kementerian Perdagangan menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan ekspor florikultura melalui berbagai program fasilitasi, mulai dari pameran internasional, business matching, hingga program Desa Bisa Ekspor yang telah berhasil mendorong ekspor anggrek bulan, anggrek dendrobium, dan anggrek cattleya dari Bumdes Singosari di Malang ke pasar Taiwan dan Amerika Serikat. Forum tersebut turut dihadiri perwakilan BINUS University, Atase Perdagangan RI di Den Haag, serta Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO).

