Kementerian Perdagangan mendorong pelaku ekspor Indonesia menjadikan prinsip keberlanjutan (sustainability) sebagai keunggulan kompetitif untuk memperkuat daya saing produk di pasar Inggris. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi, dalam diskusi panel bertajuk “Beyond Compliance: Making Sustainability Indonesia’s Competitive Edge in the UK Market” sebagai rangkaian gelaran Trade Expo Indonesia Ke 41 tahun 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (15/10). Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman eksportir Indonesia mengenai standar keberlanjutan di Inggris dan mendorong penerapan praktik bisnis berkelanjutan untuk memperluas akses pasar. Dirjen Puntodewi menyampaikan, perubahan kebijakan tarif dan meningkatnya tuntutan konsumen terhadap produk berkelanjutan membuat eksportir perlu memperkuat daya saing, tidak hanya dari sisi harga dan kualitas, tetapi juga transparansi serta ketertelusuran rantai pasok. Kepatuhan terhadap standar keberlanjutan menjadi faktor penting dalam menjaga akses pasar dan kepercayaan pembeli. Pemerintah, sektor swasta, dan pembeli perlu bekerja sama untuk mendukung penerapan prinsip keberlanjutan. Dukungan berupa panduan praktis, sertifikasi terjangkau, penguatan data, dan pengembangan sistem ketertelusuran diperlukan agar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat memenuhi ekspektasi pasar internasional. Diskusi ini menghadirkan Andrew Xeni dari Nobody’s Child dan Fabacus, Elizabeth Wilks dari APP Group UK, Hyder Haniffa dari Uni Snacks Europe Ltd., Daryanto Witarsa dari SCAI, serta Syarifah McDonough dari Arifah Studio UK, dengan moderator Atase Perdagangan RI di London, Ayu Siti Maryam.

